Senin, 07 November 2011

Suku Dayak


Suku Dayak
Secara umum seluruh penduduk dikepulauan nusantara disebut-sebut berasal dari China selatan, demikian juga halnya dengan Bangsa Dayak. Tentang asal mula bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa China dari provinsi yunnan di Cina Selatan. Penduduk Yunan berimigrasi besar-besaran (dalam kelompok kecil) di perkirakan pada tahun 3000-1500 SM (sebelum masehi). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewati Hainan, Taiwan dan Filipina.
Menurut H.TH. Fisher, migrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Benua Asia dan pulau Kalimantan merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras Mongoloid dari Asia mengembara melalui daratan dan sam
Dayak atau Daya adalah kumpulan berbagai subetnis Austronesia yang dianggap sebagai penduduk asli yang mendiami Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya sungai dimasa sekarang yaitu setelah berkembangnya agama Islam di Borneo, sebelumnya Budaya masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Seperti sebutan Bidayuh dari bahasa kekeluargaan Dayak Bidayauh itu sendiri yaitu asal kata “Bi” yang bearti “orang” dan Dayuh yang bearti ” Hulu” jadi Bidayuh bearti “orang hulu”. Sebutan Ot Danum yang berasal dari bahasa mereka sendiri yaitu asal kata “Ot” yang bearti hulu dan Danum yang bearti “air” jadi Ot Danum bearti Hulu Air ( sungai ) yaitu orang-orang yang bermukim di daerah hulu. Sebutan Biaju dari bahasa Biaju ( Lama / kuno ) sendiri yang berasal dari kata “Bi” yang bermakna “Orang” dan kata “Aju / Ngaju” yang bermakna hulu jadi Biaju bermakna “orang hulu”.
Adat Istiadat Dari Suku Dayak

Upacara Naik Dango Dayak Kanayan’t

Upacara naik dango ini dilaksanakan satu tahun sekali disetiap kecamatan dan kabupaten. Naik dango mempunyai arti yaitu “ Naik “ : menaikan padi dirumah atau di pondok – pondok, sedangkan “ dango “ : sebuah tempat untuk menyimpan padi yang telah dinaikkan dirumah / pondok. Upacara tersebut dilaksanakan setelah warga / masyarakat dayak kanayan’t sudah melakukan panen padi disetiap wilayah masing – masing. Upacara naik dango ini dilaksanakan setiap tanggal 27 April dan dilaksanakan di tiap masing – masing daerah. Upacara ini dilaksanakan agar setiap warga tau melestarikan kebudayaan yang telah diwarisi oleh nenek moyang sebelum petuah – petuah adat yang sekarang ini diwariskan.

Adat Talino ( Ritual Kematian ) Dayak kanayan’t

Kematian menurut masyarakat dayak kanayan’t mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebagai penghormatan dan penghargaan terakhir kepada manusia, maka dibuatlah ritual penguburan yang sesuai dengan kedudukan / status seseorang dalam masyarakat, tingkat dewasa, ( tua, remaja, bayi ) dan kemampuan ekonomi keluarga.
Dalam masyarakat adat dayak kanayan’t ini bila ada seseorang yang meninggal, maka semua warga datang untuk bergotong royong dalam adat kematian tersebut. Tata cara dan adat istiadat kematian dalam kalangan masyarakat dayak kanayan’t ini, menjadi salah satu unsur kebudayaan yang ada di dalam masyarakat orang dayak dan tidak akan pernah hilang.
Opini :
+) Dalam adat Talino ini masyarakat suku dayak diajarkan saling bergotong royong
- ) Pada dasarnya setiap manusia dimata tuhan semua sejajar dan sama, tidak ada perbedaan apalagi dari kemampuan ekonomi keluarga.
Adat Patamuan Dayak Kanayan’t

Adat ini adalah, adat yang mengatur perkawinan antara dua pribadi yang berbeda suku ( etnis ), misalnya antara Dayak – Bugis, Dayak – tianghoa.adat ini merupakan adat yang relative baru bagi masyarakat dayak kanayan’t,dahulu belum banyak pihak yang saling menikah berbeda etnis ( suku ). Namun sekarang seiring lajunya interaksi antar etnis dayak – non dayak maka perkawinan berbeda suku sangat sulit untuk dihindari.
Adat ini muncul untuk mengantisipasi agar penghinaan suku tidak terjadi dalam rumah tangga yang berbeda suku. Didalam kalangan dayak, menghina suku merupakan perbuatan yang sangat tercela. Oleh sebab itu adanya kebudayaan yang satu dengan yang lain kita sebagai warga Negara yang baik tidak boleh meghina / merendahkan martabat yang satu dengan yang lain dan menjaga nilai – nilai leluhur bangsa kita yaitu bangsa Indonesia.


Upacara Tiwah

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.

Perantara dalam upacara ini ialah :
Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan.

Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau meli\ewati empat puluh lapisan embun , melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian. Untuk lebih memahami uraian selanjutnya, beberapa istilah perlu diketahui :

Pengertian yang Perlu Dipahami

1. Jiwa atau Roh.
a.       Jiwa/roh manusia yang masih hidup di dunia disebut Hambaruan atau Semenget
b.      Jiwa/roh orang yang telah meninggal dunia disebut Salumpuk Liau. Selumpuk Liau harus dikembalikan kepada Hatalla. Prinsip keyakinan Kaharingan menyatakan bahwa tanpa diantar ke lewu liau dengan sarana upacara Tiwah, tak akan mungkin arwah mencapai lewu liau. Bila dana belum mencukupi, ada kematian, pelaksanaan upacara Tiwah boleh ditunda menunggu terkumpulnya dana dan bertambahnya jumlah keluarga yang akan bergabung untuk bersama melaksanakan upacara sakral tersebut.
Upacara besar yang berlangsung antara tujuh sampai empat puluh hari tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, namun karena adanya sifat gotong royong yang telah mendarah daging, maka segala kesulitan dapat diatasi. Tumbuh suburnya prinsip saling mendukung dalam kebersamaan menumbuhkan sifat kepedulian yang sangat mendalam sehingga kewajiban melaksanakan upacara Tiwah bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan didukung dan dilaksanakan bersama oleh mereka yang merasa senasib dan sepenanggungan.
c.       Salumpuk Bereng yaitu raga manusia yang telah terpisah dari jiwa karena terjadinya proses kematian. Setelah mengalami kematian, salumpuk bereng diletakkan dalam peti mati, sambil menunggu pelaksanaan upacara Tiwah, salumpuk bereng dikuburkan terlebih dahulu.
d.      Pengertian dosa
Tiga hukuman dosa yang harus ditanggung oleh Salumpuk liau akibat perbuatan semasa hidupnya :
1). Merampas, mengambil isteri orang, mencuri dan merampok. Hukuman yang harus dijalani oleh Salumpuk liau untuk perbuatan ini ialah menanggung siksaan di Tasik Layang Jalajan. Untuk selamanya mereka akan menjadi penghuni tempat tersebut. Di tempat itu pula Salumpuk liau harus mengangkat barang-barang yang telah dicuri atau dirampok ketika hidup di dunia. Barang-barang curian tersebut akan selalu dijunjung sampai pemilik barang yang barangnya dicuri meninggal dunia.
2). Ketidakadilan dalam memutuskan perkara bagi mereka yang berwewenang memutuskannya, yaitu para kepala kampung, kepala suku dan kepala adat. Mereka juga akan dihukum di Tasik Layang Jalajan untuk selamanya dalam rupa setengah kijang dan setengah manusia.

3). Tindakan tidak adil atau menerima suap atau uang “Sorok“ bagi mereka yang bertugas mengadili perkara di Pantai Danum Kalunen (dunia). Mereka akan dimasukkan ke dalam goa-goa kecil yang terkunci untuk selamanya.
Dunia Supranatural

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagaipemakan manusia ( kanibal ).Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak diganggu dan ditindas semena-mena.Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya
Manajah Antang.
ManajahAntang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuhyang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuhyang di cari pasti akan ditemukan

Mangkok merah

Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar.“Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali.Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidakpanglima itu mempunyai ilmu bisa terbang, kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuatacara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat ituroh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orangDayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya.Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehinggabiasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidakpernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluanupacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makinbanyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yangdidesain dalam bentuk bundar segera dibuat.Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah(acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti denganberas kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yangmengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempatberteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan.Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepangdulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967.pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyakmuatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.
Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulutke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulismengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenekmoyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau”(Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dariemas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” )

Budaya Tatto
Di kalangan suku Dayak, tato memiliki makna tersendiri yang sangat jauh dari kesan jok jagoan, atau sekedar gaya-gayaan apalagi sekedar untuk hiasan tubuh? Tato yang dibuat secara tradisional menggunakan duri dari pohon jeruk (seiring perkembangan zaman, sekarang menggunakan beberapa buah jarum sekaligus yang dikaitkan pada sebilah kayu) dengan tinta berupa jelaga yang di campur garam ini bagi masyarakat suku Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, bahkan untuk mencirikan tinggi rendahnya status sosial seseorang dan bisa pula sebagai bentuk penghormatan suku terhadap kemampuan seseorang.
Meskipun setiap sub suku Dayak memiliki aturan dan motif yang berbeda-beda satu sama lain tapi tujuan pembuatan tato sendiri sebenarnya memiliki kesamaan secara religi yaitu berfungsi sebagai obor atau penerangan dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian. Jadi, semakin banyak tato yang terdapat di tubuh seseorang maka semakin teranglah jalan menuju alam keabadian itu.
Walaupun begitu, bukan berarti setiap orang bisa membuat tato semaunya di tubuh mereka karena bagi masyarakat Dayak tato tidak di bisa buat sembarangan. Ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi sebelum seseorang membuat tato di tubuhnya, seperti pilihan motif tatonya, dan juga penempatan tato dibagian tubuh. Orang yang akan di tato tidak bisa asal memilih motif yang diinginkannya maupun bagian tubuh yang mana yang ingin ia tato karena sebelumnya harus terlebih dahulu tunduk pada aturan-aturan adat. Setiap sub suku di Dayak memiliki aturan-aturan tersendiri mengenai tato. Bahkan ada pula sub suku Dayak yang tak memiliki tradisi tato sama sekali
Di bawah ini saya uraikan secara singkat beberapa motif yang biasa di pakai oleh sub suku Dayak untuk tato mereka berikut hal apa saja yang harus dilakukan orang yang bersangkutan sebelum mendapat motif tato tersebut.
Dayak Kenyah dan Dayak Kayan (Kalimantan Timur).

Bagi kedua sub suku ini banyaknya tato yang ada di tubuh mereka adalah berbanding lurus dengan seberapa jauh dan seringnya mereka mengembara. Dan karena setiap kampung memiliki motif tato yang beragam maka bila banyaknya motif ragam tato yang menempel di tubuh mereka itu artinya yang bersangkutan telah mengembara cukup jauh. Pengembaraan yang dilakukan oleh suku ini biasanya dilakukan dengan berjalan kaki dan dalam waktu yang bisa berbulan-bulan karena mengingat jauhnya jarak antar kampung yang ada di wilayah Kalimantan. Sedangkan Di kalangan masyarakat dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren ) adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.
Pada suku Kayan tidak hanya laki-laki yang bisa memiliki tato tapi perempuan pun lazim memilikinya di tubuh mereka. Tapi berbeda dengan laki-laki yang biasanya harus mengembara terlebih dahulu dan tato adalah sebagai bentuk penghargaan atas apa yang telah dilakukannya, maka pada tubuh perempuan (Biasanya di kaki, paha, atau tangan) suku Dayak Kayan tato ini lebih bermotif religius, ada tiga macam tato yang biasanya disandang perempuan suku Kayan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii pada seluruh paha.
Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat disebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang di tato maupun keluarganya.
Bagi perempuan Dayak memiliki tato dibagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis. Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagia lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato dibadan. Tato yang dibuat diatas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi jadian atau disebut tuang buvong asu.
Dayak Iban

Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunanya ditato dengan motif sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan sangat detail dibandingkan tato untuk golongan menengah ( panyen ).
Disamping ketiga sub suku Dayak di atas sebenarnya masih ada motif tato lainnya yang antara lain motif tato yang berkaitan dengan kebiasaan mengayau (Memenggal kepala) dalam satu peperangan. Tapi karena kebiasaan mengayau ini sudah tidak lagi dilakukan maka motif-motif seperti ini hampir tak pernah lagi di pakai. Dan atau tradisi tato bagi suku Dayak yang bermukim di perbatasan Kalimantan - Serawak, mereka menato jari-jari tangan mereka sebagai ciri bahwa suku tersebut ahli dalam hal pengobatan. Maka jika anda melihat banyak tato di sekitar tangan mereka maka itu bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan sangat ahli dalam hal pengobatan.
Contoh Kerugian dari Adat/ Kebiasaan dari Suku Dayak
Ritual Suku Dayak Tomun

Informasi yang kami terima darinya menyebutkan bahwa ritual tersebut biasanya dilakukan apabila orang tua dari Suku Dayak Tomun ada yang meninggal dunia maka keturunan laki-lakinya akan diupacarai adat untuk keluar dari kampung guna mencari tumbal kepala orang yang nantinya akan di persembahkan kepada jasad orang tuanya yang meninggal tersebut. Wow...sadis!!

Tapi anda tidak perlu takut, karena kesadisan adat tersebut seiring musnah dengan semakin berkembangnya pemikiran dari warga  Dayak Kaharingan sendiri akan kesadaran bahwa ritual tersebut sangat bertentangan dengan peraturan pemerintah dan norma yang juga berlaku bagi masyarakat negeri ini umumnya.

Salah satu bukti sejarah ritual Ngayau tersebut kami temukan di Rumbang Bulin, rumah adat Dayak Tomun yang ada di desa Bakonsu, yang disebut memiliki arsitektur rumah panggung yg panjang dan tinggi serta memiliki tangga rumah yang dapat dilepas dan disimpan guna kewaspadaan keluarga di rumah tersebut dari 'Kayau' atau orang yg melakukan ritual Ngayau. Di depan Rumbang Bulin ini terdapat 'Sandung' yaitu prasasti yang di atasnya masih tersimpan tengkorak kepala manusia yang menjadi korban ritual Ngayau tersebut. Sandung tersebut sempat di rehab di tahun 1958, yang disebut sebagai masa-masa berakhirnya ritual Ngayau di Suku Dayak.

Sekarang, tidak ada lagi yang perlu anda takuti untuk berwisata ke Kalimantan.





sumber :

Tidak ada komentar: