Sabtu, 27 Oktober 2012

Sebagian Kisah Kecilku


Nama          : Melati Marita Rahmadani
NPM           : 14110335
Kelas           : 3KA28



Melati punya kelopak yang cantik, putih dan suci. Melati adalah  Lambang kelembutan, kebersihan Dan Nuansa kedamaian hati. Mungkin itulah harapan  dari keluarga berdarah jawa betawi yang sederhana ini saat memberi nama anak pertamanya. Ya,, Melati lah nama yang diberikan oleh kedua orangtuaku, dengan harapan kelak aku kan menjadi anak yang cantik, putih dan sesuci bunga melati. Dan juga dengan harapan orangtuaku aku menjadi anak yang lembut dan selalu memberikan nuansa kedamaian di sekeliling orang-orang yang ada disekitarku.

Ayahku yang berdarah jawa sangat mendidik anak-anaknya untuk selalu belajar bertanggungjawab dan disiplin. Beliau juga selalu berkata kepada anak-anaknya kelak harus menjadi anak yang kuat untuk menghadapi segala macam masalah. Ruwiyadi adalah ayahku, beliau bekerja di PT.Pelni. Aku selalu belajar dari pengalaman ayah yaitu saat beliau bukan siapa-siapa sampai di ibu kota Jakarta ini, tapi berkat kegigihan dan keyakinannya  beliau bisa seperti sekarang. Ibu adalah orang yang paling aku sayangi didunia ini, beliau yang selalu mengerti aku dengan segala apapun yang aku rasakan dan keadaanku. Beliau selalu mendukungku dan memberikan yang terbaik untukku. Cita-cita terbesarku adalah membahagiakan beliau, bisa memberikan semua yang terbaik untuk beliau. Dewi Amalia beliaulah ibuku, beliau yang melahirkanku pada tanggal 26 Maret 1992. Ibuku selalu berpesan jika aku menyayanginya aku harus selalu mengingatnya saat aku ingin melangkah, agar aku ingat untuk tidak melangkahkan kaki ini kejalan yang salah.

Saya lahir 26 Maret sekitar 20 tahun silam, banyak orang yang mengira aku berdarah sunda atau orang Bandung katanya karena warna kulitku dan wajahku. Tapi yang saya tau warna kulitku mirip dengan semua anggota kelurga mama, dan orang yang mengenal mamapun berkomentar kalau aku ini sangat mirip waktu mama masih muda dulu. Melati Marita Rahmadani adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adikku yang pertama adalah laki-laki sekarang dia duduk dikelas 2 SMA bernama Rizky Yusuf, aku tidak terlalu akur dengannya mungkin karena jarak kami yang hanya berbeda 4 tahun, jadi dia kurang bisa menghargaiku sebagai kakaknya. Tapi walaupun begitu dia juga sering khawatir jika terjadi apa-apa kepadaku, misalnya saat aku terjatuh dari motor atau saat aku harus menjaga rumah sendiri. Adikku yang kedua adalah perempuan namanya Regina Maharani Azahra, biasa dipanggil Za, adikku yang kedua umurnya terpaut jauh denganku yaitu sekitar 15 tahun, sekarang Za baru masuk sekolah Taman Kanak-kanak.

Semenjak kecil aku tinggal di Bekasi, pada tahun 1996 aku masuk sekolah pertamaku yaitu di Taman Kanak-Kanak, di TK Cut Meutia yang berlokasi tidak jauh dari rumahku, setelah satu tahun berlalu aku melanjutkan ke SDN Pengasinan IX, hari pertamaku sekolah SD aku sangat bersemangat untuk berangkat sekolah, dulu setiap jam 5.30 ayahku sedah berangkat kekantor dan untuk hari pertamaku, aku meminta untuk mengantarku kesekolah pagi-pagi sekali, akhirnya aku berangkat kesekolah bersama ayah dan ibuku jam 5.30 sudah sampai di gerbang sekolah dan ternyata aku datang sangat terlalu pagi, karena gerbang sekolahpun ternyata belum dibuka, terpaksa aku harus menunggu sampai gerbang sekolah dibuka. Saat itu aku mempunyai banyak sekali teman-teman baru dan juga kebanyakan teman-temanku sewaktu aku di TK Cut Meutia, dari semua teman-temanku, aku memiliki teman dekat yang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, namanya Vera, kemanapun kita selalu bersama, sampai saat kita kelas 4 SD, dia berpamitan untuk pindah ke Medan, dia pergi meninggalkan sebuah janji, kalau dia akan kembali untuk kuliah bersamaku disini, dia berjanji akan mencariku, sekarang aku kuliah sudah ditahun ketiga, tapi aku tidak mendapatkan kabar apapun darinya. Sewaktu aku duduk dikelas 1 SMP, aku pernah mendapat kabar burung bahwa dia sudah pergi untuk selama-selamanya karena penyakit demam berdarah, tapi sampai sekarang aku belum bisa mempercayai kabar itu, karena tidak jelas sumbernya dari mana, disini aku masih menunggu kabar darinya, aku masih menunggu dia menepati janjinya. “Vera, dimana  kamu sekarang?, aku menunggumu kembali setidaknya hanya untuk saling bertemu sapa.. “.                                                                 Setelah aku lulus SD, aku melanjutkan sekolah di SMP Tamansiswa, disana aku berada dilingkungan orang-orang berdarah Jawa, disana aku jadi terbiasa berbicara dengan santun dan sopan. Disana aku banyak menemukan sosok guru-guru yang sangat bersahaja, guru-guru yang sangat ikhlas mendidik anak muridnya, mungkin ini yang dinamakan guru tanpa jasa, saat aku duduk dikelas 3 SMP, saat persiapanku untuk mempersiapkan untuk menghadapi Ujian Nasional, guru-guruku disana hampir setiap hari mengajarkan kami sampai sore hanya dengan tujuan untuk membuat murid-muridnya mengerti materi yang diajarkan dan dengan harapan muridnya bisa Lulus dari Ujian Nasional 100 %. Alhamdulilah, akhirnya kami semua lulus. Lalu aku melanjutkan ke SMK Yadika 8, dengan mengambil Jurusan Teknik Komputer & Jaringan, aku bisa mengambil jurusan ini dan sekolah di Yadika 8, semua karena keputusan dari ayahku, aku sebelumnya tidak tau ternyata ayahku sudah mendaftarkan aku tanpa sepengetahuan aku. Setelah aku tau, aku hanya bisa mengangguk dan menjalankan apa yang sudah dipilihkan oleh ayah. Ingin rasanya marah, tapi untuk apa, aku coba untuk meyakinkan diriku bahwa ayah pasti sudah memilihkan yang terbaik untukku. Sambil berharap semoga jodohku kelak, ayah bisa memberikanku kepercayaan untuk memilih sendiri. Di masa-masa SMK adalah masa-masa saat aku mulai mengenal cinta, mulai dari yang cinta monyet sampai cinta gila mungkin. Saat aku kelas 1 SMK akhir aku sudah mendapatkan kepercayaan untuk bisa memulai Prakerin lebih awal, lalu aku mulai masuk kelingkungan para pekerja disalah satu perusahaan , aku ditempatkan sebagai admin warehouse, banyak pengalaman yang aku dapat dari sana, aku belajar berkomunikasi dengan banyak orang, aku bisa tahu suasana lingkungan kerja, bagaimananya susahnya untuk mendapatkan uang, dari sana aku bisa lebih menghargai uang karena aku sudah bisa merasakan lelah dan susahnya mencari uang.

Pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan oleh aku dan mungkin oleh semua keluargaku yaitu saaat kami harus berpisah yaitu saat ayahku dipindahkan dinasnya ke kota Sorong, Papua Barat. Ayahku diharuskan pindah ke Sorong awal tahun 2009, karena saat itu aku duduk dikelas 3 SMK mungkin orangtuaku pun berfikir untuk tidak meninggalkanku sendiri saat itu, dan dengan berat hati ayahku pindah ke kota Sorong seorang diri. Tapi setelah aku lulus pada tahun 2010 dari SMK, orangtuaku memutuskan untuk semua keluarga pindah ke Sorong, karena aku berkeinginan untuk kuliah di Jakarta, maka ayah mengizinkanku untuk tinggal disini. Lalu ibuku menyempatkan untuk menemaniku untuk mencari kos sebelum beliau pindah dan juga mengurus pendaftaran masuk kuliahku di Universitas Gunadarma. Aku yang terbiasa pergi kemanapun ditemani oleh ibuku, aku yang setiap hari selalu berbagi cerita dengan ibuku apa yang aku alami dihari-hariku. Hubunganku dan ibu sangat dekat, ibupun tidak keberatan aku juga menganggapnya sebagai teman, kata ibu agar tidak perlu sungkan untuk bercerita apapun kepadanya, aku bisa terbuka cerita apapun itu kepada beliau. Tapi karena semua ini sudah takdir, kita tidak bisa memilih begitulah ibuku berkata saat meyakinkanku, dengan berat hati aku melepaskan kepindahan mereka. Hari-hari pertamaku untuk lebih mandiri dari sebelumnya, sangat terasa berat, hari-hari dimana aku harus menjalankan hidupku seorang diri, yang biasanya selalu ada celoteh adik-adikku, yang biasanya selalu ada makan bersama. Sekarang semuanya kulakukan sendiri, aku dituntut untuk bisa menata diriku sendiri, karena tidak ada lagi suaru ibuku yang mengingatkan untuk makan setiap kali waktunya makan.

Hari kemarin adalah sejarah, sejarah yang tidak mungkin bisa dirubah lagi, maka aku harus bisa menjadikan hari ini lebih baik lagi dari hari kemarin, sedangkan hari esok adalah harapan, harapan yang harus kukejar untuk menjadi manusia yang terus dan semakin lebih baik lagi. Itulah yang selalu kucoba tanamkan dalam diriku.

( Badegos Ronggas )

Tidak ada komentar: